Budaya

Syair Hujan Jl Jawa IV D No 40

 

di sisi ruang tamu berlatar tepian sungai

Gemuruh langit membelah keheningan sore hari

Sulur-sulur hujan terjuntai menyisiri dedaunan

Berkecipak rintik bersama temaramnya lampu

 

Sebaris meja dan kursi ketika hujan menderap rintik

Ada tanda kehidupan dihadapan keyboard laptop yang berdetik

Ada semangat belajar dalam keredupan cahaya

Disetiap kepak lembaran buku “Berguru Pada Soekarno”

Ketika sahabat Fendi Irawan duduk disampingku

Sedang aku duduk terpaku merajut syair-syair hujan sore ini

 

Berjajar-jajar motor dalam sebaris parkir tak beraturan

Mati tak bertuan sepeninggal sang penunggang

Yang pergi melepas penat dalam hangatnya ruang kamar

Ketika desir angin diluar kian tajam menyayat dada

 

Maka  begitulah selembar sejarah sore ini tercipta

Diantara hiruk-pikuk persoalan dunia kampus

Dan segelas kopi yang tlah tandas di Kampus Sastra

Sebagai suatu simbol bahwa hidup adalah tentang amanah perjuangan

Bersama rintik-rintik hujan sore ini

Tlah menjadi bagian sya’ir kehidupan

 

 

Lars Ulriz­_NFE’14                                                              Jember, 15 September 17.00 WIB

%d bloggers like this: